Beranda EKOBIS Bisnis Gelap BBM Bersubsidi, “ Siang Habis  Malam di Sedot”

Bisnis Gelap BBM Bersubsidi, “ Siang Habis  Malam di Sedot”

1204
0
Antrian Kendaraan mengantri BBM disalah satu SPBU di Kota Palu (Foto:Portalsulawesi)

Palu,Portalsulawesi.com- Praktik culas Pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sulawesi Tengah makin menjadi sorotan Publik,pasalnya setiap hari disekitar SPBU tampak mengular mobil mengantri Bahan Bakar Minyak Khususnya Jenis Premium dan Solar Subsidi.

Kelangkaan BBM Subsidi yang melanda di hampir semua SPBU di Sulawesi Tengah di duga kuat akibat ulah culas para pebisnis gelap “Minyak Subsidi” yang dikelola sekelompok orang dengan bekerja sama antara Operator,Pemilik SPBU dan Aparat Keamanan.

Dikota Palu contohnya, hampir semua SPBU dalam Kota Palu dipagi hingga Malam hari tidak melayani pembelian Premium dan Solar Subsidi dengan alasan Stok BBM belum Masuk ataupun Jatah BBM Subsidi habis.

“Maaf pak,Premium kami habis ,Jatah dari Depo Pertamina belum datang “ Ujar salah satu Operator di SPBU yang beroperasi di Jalan Towua,Kota Palu.

Hal senada ketika tim investigasi Portalsulawesi mencoba mengisi Bahan Bakar Jenis Solar di SPBU Kartini,alasan Stok Solar Subsidi habis atau belum datang menjadi senjata Pamungkas Operator SPBU.

Sehingga menjadi hal yang lumrah jika Tulisan “Premium dan Solar Habis” terpampang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada Waktu Pagi hingga Malam Hari.

Jika ada SPBU yang menyediakan Solar Subsidi disiang hari,akan terlihat antrian Mobil dengan jumlah yang cukup banyak,tetapi uniknya beberapa Mobil minibus dengan Nomor Plat yang berubah ubah hilir mudik mengisi BBM Subsidi dengan Nominal yang tidak wajar.

Dari hasil pantauan media ini,sejumlah Mobil jenis Kijang ataupun Minibus mengisi tangki BBM jenis Solar hingga mencapai Rp.1.5 Juta,pengisian dilakukan berkelompok dengan metode bergilir di beberapa SPBU di Kota Palu.

Untuk mengelabui Konsumen lain di SPBU,para sindikat Sopir pengemplang BBM Bersubsidi ini turut mengantri untuk mengisi BBM,usai mengisi BBM dengan nominal Normal,mobil tersebut kembali antri dibarisan belakang antrian.

Hal ini dilakukan secara berulang ulang hingga tangka dalam Mobil Siluman tersebut terisi penuh hingga satu ton,modus ini dilakukan di SPBU Berbeda setiap harinya.

Sedangkan untuk Malam Hari,Pengelola SPBU yang bekerjasama dengan Operator dan Cukong pengemplang BBM bersubsidi melakukan aktifitas penyedotan BBM Bersubsidi ,aktifitas dilakukan mulai pukul 01.00 dini hari hingga Jelang azan Subuh.

Pantauan tim Investigasi Portalsulawesi,Transaksi BBM Bersubsidi Jenis Premium dan Solar pada Dinihari terjadi sudah sejak setahun silam,bahkan diawal bulan maret 2020 ini,kegiatan Ilegal yang diduga dibekingi Aparat tersebut terang terangan mengisi BBM Bersubsidi dimobil mobil pengangkut yang telah disiapkan sejak sore hari.

Pengambilan BBM Bersubsidi malam hari sudah sangat terstruktur,ada Jadwal penjatahan untuk kelompok pengemplang BBM Jenis Solar dan Premium,dugaan keterlibatan Aparat keamanan dalam membekingi praktek culas ini sangat jelas terlihat.

Endy,salah satu warga kota palu yang berprofesi sebagai sopir antar kota disebuah jasa angkutan penumpang mengeluhkan susahnya mendapatkan solar,bahkan dirinya harus rela kehilangan uang makan hanya untuk mendapatkan BBM dengan harga yang sedikit mahal dari Harga Eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah.

“kasian kami pak,sopir yang hanya mengandalkan retasi angkutan barang,dengan susahnya dapat solar kami harus mengeluarkan biaya tambahan jika harus beli solar eceran,kami terkadang antri hingga seharian dan hanya dapatkan solar seharga Rp.300.000,” ungkap Endy setengah memelas.

Hasil penelusuran media ini,kompolotan pengemplang BBM bersubsidi diduga kuat memiliki jaringan dengan berbagai Usaha Pertambangan Skala Menengah dan Besar,BBM Bersubsidi yang di sedot dari SPBU Mitra Pengemplang tersebut dijual dengan harga Industri dengan memakai Faktur Penjualan BBM Non Subsidi.

Harga eceran BBM untuk jenis Premium senilai Rp 6.450/liternya,sedangkan Solar Subsidi Rp.5.500/liternya. Ditangan para pemain minyak,premium ditampung dalam wadah Jerigen dengan isian 35 Liter dengan Harga Beli Rp.225.750 ditambah ongkos isi buat operator Rp.5000-10.000/jerigen.

Ketika dijual kembali dengan pengecer di luar kota palu,Harga Premium Perjerigen menjadi Rp.260.000-275.000/perjerigen.

Sedangkan untuk Bahan Bakar Minyak jenis Solar,dibeli di SPBU dengan Harga Subsidi Rp.5.500/Liternya,dijualkan kembali ke Pelanggan dengan Harga Rp.7.000-8.500/liternya, bahkan untuk mengelabui masyarakat awam akan Solar Bersubsidi ini,sebagian pengemplang BBM Solar mencampurkan Solar Subsidi hasil “sedot” di SPBU dengan Solar Non Subsidi.

Untuk keamanannya,Solar Oplosan Subsidi tersebut dimuat dengan Mobil tangki  Angkut BBM yang telah dilengkapi Faktur BBM Non Subsidi dari perusahaan Transportir.***

Penulis : Tim Investigasi Portalsulawesi.