Beranda lingkungan Proyek Peningkatan Jalan Ruas Watumaeta-Sanginora diduga Kuat Gunakan Material “Ilegal” dari Kawasan...

Proyek Peningkatan Jalan Ruas Watumaeta-Sanginora diduga Kuat Gunakan Material “Ilegal” dari Kawasan Hutan Lindung.

1318
0
BERBAGI


Napu,Portalsulawesi.com- Proyek peningkatan Jalan Propinsi Ruas Watumaeta-sanginora diduga minim pengawasan,pasalnya kontraktor pelaksana dalam menyediakan material berbuat sesuka hati dengan mengesampingkan aturan yang ada.

Proyek yang dibiayai oleh uang negara dari pos APBD DAK 2019 Propinsi Sulawesi Tengah diduga kuat memakai material galian C “Ilegal”, kontraktor pelaksana dengan hanya bermodal alat berat jenis Eskavator dan mobil dumptruck melakukan pengerukan material batu dan pasir di sungai Hae.

Aktivitas pengambilan material Sirtukil (pasir,batu dan kerikil) di sungai Hae telah berlangsung cukup lama,material yang diduga kuat ditambang secara ilegal ini dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan material proyek Peningkatan Jalan Propinsi Ruas Watumaeta-Sanginora Tahun 2019.

Adalah PT Karya Baru Makmur ,perusahaan yang memenangkan tender senilai Rp.13.904.252.000 melaksanakan pekerjaan peningkatan jalan ruas Watumaeta-Sanginora sepanjang 6,4 Km,pekerjaan yang direncanakan tuntas diakhir tahun ini terus digenjot pelaksanaannya.

Sayangnya,pihak PT Karya Baru Makmur selaku kontraktor pelaksana cenderung mengabaikan aturan yang ada,salah satunya adalah pemakaian material legal untuk memenuhi kebutuhan diproyeknya.

Aksi pengerukan Sungai Hae untuk kepentingan Material proyek tersebut diakui oleh Rudi Candra,selaku pemilik perusahaan  PT Karya Baru Makmur ,menurutnya hal itu dilakukan dikarenakan jarak pengambilan material ditempat lain terlalu jauh.

“Kita hanya mengambil material batu sama pasir untuk kepentingan penimbunan bahu jalan sama bahan pondasi dilokasi yang akan dipasangi talud,memang alat kami yang bekerja disana ” akunya,saat ditemui portalsulawesi dikantornya.

Rudi Candra mengakui,aksi “menjarah” material Sirtukil di sungai Hae diketahui oleh pihak Pengawas baik dari konsultan pengawas maupun Pejabat di Dinas PU Bina Marga Propinsi.”Konsultan sama dinas tau kami ambil material disana,ndak ditegur juga,lagian masyarakat napu juga yang bekerja disana ,kalo ambil ditempat lain kejauhan dan besar ongkosnya ” Kilahnya.

Keberanian Kontraktor pelaksana yang tanpa mengantongi izin galian C melakukan eksploitasi sungai Hae seharusnya mendapat perhatian pemerintah,khususnya penegak hukum pada instansi terkait.

Hasil penelusuran redaksi portalsulawesi,Sungai Hae tempat lokasi pengambilan material untuk kepentingan proyek tersebut masuk dalam kawasan hutan lindung didaerah Aliran sungai Palu-Poso,semestinya segala aktifitas pertambangan di sungai ini baik dilakukan perorangan maupun perusahaan adalah ilegal dan melanggar hukum.

Hingga berita ini ditulis,aktifitas pengerukan material galian C sirtukil di sungai Hae Poso terus terjadi,bahkan areal pengerukan menyisakan kerusakan lingkungan yang cukup parah.****

Penulis : Heru