Beranda News hukum kriminal Polres Muna Masih dalami Kasus Persetubuhan Anak, Ayah Korban : Wakil Bupati...

Polres Muna Masih dalami Kasus Persetubuhan Anak, Ayah Korban : Wakil Bupati Butur Harus di Tahan

1759
0
BERBAGI
Kapolres Muna AKBP Debby Asri Nugroho didampingi oleh Kasat Reskrim AKP Muh. Ogen Sairi, Foto : La Ode Alim


Sultra-Muna, Portalsulawesi.com- Polres Muna masih dalami kasus persetubuhan anak dibawah umur yang diduga dilakukan oleh Wakil Bupati Buton Utara (Butur), perantara sudah ditetapkan jadi tersangka dan sudah dilakukan penahanan.

Usai mendapat info (25 September 2019) dari korban sebut saja Mawar (15) warga kabupaten Butur, ayah korban langsung melaporkan Inisial T dan Wakil Bupati Butur inisial R ke Polsek Bonegunu atas dugaan perdagangan anak dan persetubuhan anak dibawah umur (26 September 2019) dengan laporan polisi nomor : LP/ 18 / IX /2019 / Sultra/Res Muna/Spkt Sek Bonegunu.

Kapolres Muna AKBP Debby Asri Nugroho mengatakan, saat ini kasuh yang dilaporkan di Polsek Bonegunu atas dugaan tindak pidana perdagangan anak dan persetubuhan anak dibawah umur sudah ditangani oleh Polres Muna.

“Dalam kasus dugaan tindak pidana perdagangan anak, kami sudah menetapkan tersangka seorang wanita T (31) yang masuk dalam tahap penyidikan dan sudah diamankan dirutan Polres Muna, sementara kasus untuk dugaan persetubuhan anak dibawah umur masih dalam tahap lidik karena kita mengumpulkan bukti bukti dulu,” kata Debby dalam jumpa persnya, Jumat (4 oktober 2019) diruang kerjanya.

Dia melanjutkan, untuk memanggil terduga pelaku persetubuhan anak, kita masih mengumpulkan saksi dan alat bukti terlebih dahulu.

“Keterlibatan tersangka T sebagai orang yang membujuk rayu si korban dengan memberikan iming iming, kemudian iming iming tersebut diambil oleh tersangka setelah ketemu dengan oknum yang diduga pelaku,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Dari pengakuan tersangka T, oknum pejabat butur telah melakukan perbuatan yang telah dilaporkan.

“Untuk kasus persetubuhan yang dilakukan oleh oknum pejabat butur masih dalam lidik, kita kumpulkan dulu saksi saksi dan bukti yang lain, untuk keterangan tersangka dan terperiksa itu dinomor sekiankan, yang penting itu saksi saksi lain dan bukti kuat baru bisa dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya,” jelasnya.

Debby membeberkan dalam Konferensi pers, sabtu (5 oktober 2019), untuk tempat kejadian perkara (TKP) di kecamatan bonegunu kabupaten buton utara sekitar bulan juni 2019. Kejadiannya tersangka T mendatangi korban Mawar untuk memberi tahu ada seorang lelaki yang menyukai Mawar, kemuadian Mawar dibawah kerumah T dan disuruh berganti pakaian dirumah T.

Dia meneruskan, Setelah itu T keluar dan disambutlah seseorang yang akan menjemput korban Mawar untuk bisa bertemua oknum yang bersangkutan, Setelah itu tersangka memberikan uang sekitar Rp. 2 juta kepada korban. Berlanjut pada kegiatan berikutnya orang yang ditentukan itu mendatangi korban Mawar dan diberikan uang sebesar Rp. 300 ribu, namun keterangan dari perantara T, uang Rp. 300 ribu diambilnya Rp. 200 ribu. Dari kejadian persetubuhan anak ini terjadi pada dua TKP.

Peran tersangka T diamankan sebagai perantara untuk mempertemukan korban dengan seseorang. Terkait pelaku yang akan disebutkan oleh saksi korban, maka kita akan mensinkronkan dengan tersangka T yang juga mengetahui dengan kejadian ini, tambahnya.

“Dari korban, lalu diarahkan ke pelaku ini membutuhkan perantara, sehingga antara korban dan perantara harus satu menyebut pelaku,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, melalui sambungan telpon genggamnya, sabtu (5/9/2019), Ayah korban menyatakan, bahwa saya melaporkan kasus anak saya yang diduga dicabuli oknum wakil bupati butur.

Ayah korban menjelaskan, awalnya korban telpon dan menceritakan kejadian yang menimpanya (25/9/2019), telah dilakukan persetubuhan terhadap dirinya yang diduga dilakukan oleh wakil bupati Butur R dengan perantara T, kemudian (26/9/2019) saya laporkan kejadian itu di Polsek Bonegunu.

Harapan Ayah korban, agar dilakukan pengusutan kasus sesuai dengan hukum yang berlakuka di negara kita. Sebab T telah menjual anak ke oknum pejabat R, akan tetapi T sudah ditahan, namun wakil Bupati Butur R belum ditahan, itu yang membuat Ayah korban heran selaku orang tuanya.

“Seharusnya pembelinya diproses hukum karena diduga telah mencabuli anak dibawah umur, karena itu melanggar hukum maka harus diproses hukum,” ungkap Ayah korban.

“Bila belum diproses dan masih berkeliaran, ketakutannya terjadi hal yang tidak kita inginkan, siapa nantinya yang bertanggung jawab. Kita sebagai keluarga sudah malu, sementara si pelaku oknum pejabat wakil bupati masih berkeliaran, kenapa belum ditahan? Sementara si perantara T sudah ditahan,” kata ayah korban yang masih menyimpan tanya.

Ayah korban juga menegaskan bahwa proses hukum harus ditegakan, harus tidak pandang bulu, apakah pejabat atau bukan. Kita ini orang kecil jangan diinjak injak, mentang mentang orang besar, banyak uang, semaunya mau injak orang kecil.

Ayah korban melaporkan ini, agar tidak terjadi kepada anak yang lain, masih berharap anak se usia itu masih harus bersekolah. Namun saat ini, Ayah korban menuturkan, anak saya, sudah tak mau lagi bersekolah, trauma dan keluarga ikut malu atas kejadian ini.

Laporan : La Ode Alim