Beranda Uncategorized ​Menguak Mutiara Dibalik Keindahan Hutan TNLL bersama Jurnalis Sulteng

​Menguak Mutiara Dibalik Keindahan Hutan TNLL bersama Jurnalis Sulteng

2080
0
BERBAGI

Pesona alam di desa Bolapapu,  yang berada di kawasan Cagar Alam TNLL. (fhoto:nila)

Palu Portalsulawesi. com – Kawasan Hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL),  yang memanjang melintas di  dua kabupaten di Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi, merupakan bentangan hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang ada sekitar kawasan hutan TNLL. 

Sebuah anugerah alam yang harus selalu dipelihara dan dijaga kelestariannya.  Karena selain menjadi sumber kehidupan, Taman Nasional Lore  Lindu merupakan paru-paru dunia yang memang harus dijaga keberadaannya agar tetap lestari sepanjang masa mengingat dibalik hutan yang ada dikawasan Taman Nasional Lore Lindu menyimpan mutiara yang sampai kini menjadi sumber kehidupan penduduk dibeberapa desa yang mengitari TNLL. Dan untuk mengetahui lebih jelas akan keindahan mutiara yang ada di balik hutan TNLL itu,  maka dari pihak Balai Taman Nasional  Lore  Lindu bekerjasama dengan pemerintah Jerman melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)  yang disponsori oleh Forest Programme  III mengadakan traveling jurnalis (TJ)  dengan mengajak sejumlah jurnalis dari beberapa media cetak harian lokal,  media Televisi Nasional dan media on line.  

Tim II yang diantaranya ada kelompok jurnalis sulteng saat mengunjungi desa Namo, Kecamatan Kulawi. Fhoto diambil tepat di depan Lobu,  tempat pertemuan masyarakat adat kulawi.(fhoto:nila)

Pada kegiatan traveling jurnalis ini peserta yang ikut dibagi menjadi dua tim, dengan pembagian tim I kearah timur TNLL dengan wilayah kunjungan ke Napu  dan sekitarnya di Kabupaten Poso dan sebagian desa yang dikunjungi oleh tim I masih masuk wilayah Kabupaten Sigi sedangkan Tim II menuju ke arah barat dengan wilayah kunjungan ke desa Namo, Desa Toro dan Desa Mataue di Kecamatan Kulawi,  Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Dan setiap tim,  para jurnalis didampingi oleh pihak balai TNLL dan dua orang dari PEA FP3/Direktorat PIKA. 

Perjalanan tim II ke desa Namo,  disambut baik oleh Rusdin selaku Sekretaris Desa (Sekdes) Namo didampigi beberapa perangkat desa Namo.  Pada pertemuan yang berlangsung di kantor desa Namo,  kami dari tim II banyak memperoleh informasi terkait bagaimana masyarakat desa Namo dalam memanfaatkan keberadaan sumber daya alam yang ada di kawasan hutan lore lindu. Namun tidak merambah hutan yang masuk dalam kawasan batas larangan sebagaimana yang telah disepakati bersama antara pihak TNLL dengan masyarakat adat di Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Gumbasa.  

Kelompok ibu rumah tangga di desa Namo  mulai mengembangbiakan keberadaan beragam species anggrek yang tumbuh liar disekitar kawasan hutan TNLL. Berharap kedepan ini bisa menjadi sumber pendapatan baru dalam menopang ekonomi keluarga.  (fhoto:nila)

Secara panjang lebar Rusdin mengatakan kalau mata pencaharian masyarakat desa Namo sebagian besar adalah bertani disawah. Dan sebagian kecilnya berkebun dengan memanfaatkan lahan yang ada di kawasan hutan TNLL tetapi tidak masuk dalam batas kawasan zona larangan.  Karena di TNLL itu ada yang namanya zona larangan dan zona penyangga . “zona penyangga inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat di desa Namo  dengan mengelola kebun dan sebagian lagi mengambil rotan dan damar. Dan memang benar adanya bahwa keberadaan Hutan TNLL menjadi sumber kehidupan. Terutama air bersih yang bersumber dari pegunungan lore lindu.  “selama ini masyarakat kami menikmati air yang bersumber dari pegunungan lore lindu dan air inilah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di desa Namo dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka,” kata Rusdin seraya berkata kalau saat ini kelompok ibu-ibu rumah tangga desa Namo juga mulai melakukan pembudidayaan anggrek yang ditemukan tumbuh liar diseputaran kawasan hutan lore lindu. Kedepan pengembangan bunga anggrek dengan beragam species ini kelak bisa menjadi nilai tambah bagi ekonomi keluarga. 

Dari desa Namo,  kami menuju ke desa mataue untuk mengintip keberadaan si monyet kecil atau dikenal dengan nama tarsius (tarsier), Sejenis kera kecil yang beratnya kurang lebih 100 gram dengan panjang badan 10 cm dari kepala, sedangkan panjang ekornya hanya 20 cm. Tarsius ini hanya bisa dilihat pada saat matahari terbenam sampai terbit fajar. 

Seperti inilah keseruan tim media ketika mengambil gambar Tarsius,  salah satu satwa langka yang mendiami hutan Lore Lindu. (fhoto:nila)

Menurut Juniharto atau akrabnya disapa Nato sebagai pemandu wisata di wilayah dataran kulawi, saat yang paling tepat untuk mengintip tarsius itu antara pukul 18.00 wita – 06.00 wita.  “pada jam itu tarsius akan keluar mencari makan dan kembali ke peraduannya pada saat menjelang pagi. Tempat peraduan atau persembunyiannya yang paling aman dari predatornya itu hanya di pohon bambu atau melakukan persembunyian didalam batu,” kata Nato  yang  begitu  banyak  tahu tentang  tarsius mulai dari species tarsius, makannya,  sampai pada musim kawin tarsius  diketahuinya  karena dalam  siklus  kehidupannya  tarsius  setelah kawin dan beranak,  setelah  dianggap dewasa  anaknya harus hijrah mencari wilayah  jelajah  baru dan mencari  pasangannya. Secara berulang-ulang  siklus  kehidupan  tarsius  begitu,  harus mencari  wilayah jelajah baru dan minimal,0,5-3 hektar untuk  luasan wilayah  jelajahnya. Bahkan disebutkannya ada 2 spesies tarsius  yang ada didataran tinggi Kulawi yakni Pygmy tarsier (Tarsius pumilus) dan Dian’s tarsier (Tarsius dianae) yang belum lama ini teleh teridentifikasi dengan spesimen baru dan merupakan satwa asli Taman Nasional Lore Lindu.

Inilah Species Tarsius Dianae. 

“tapi yang ini adalah species tarsius dianae. Dan kebanyakan yangbsaya temui adalah species tarsius dianae, “ ungkap Nato seraya menambahkan kalau di Taman Nasional Lore Lindu ini juga ada beberapa jenis binatang khas Sulawesi seperti Anoa, babirusa, rusa, kera hantu (Tangkasi), kera kakaktonkea, kuskus marsupial dan musang juga hidup di taman ini. Taman Nasional Lore Lindu juga memiliki paling sedikit 5 jenis bajing dan 31 dari 38 jenis tikusnya, termasuk jenis endemik.

Sedikitnya ada 55 jenis kelelawar dan lebih dari 230 jenis burung, termasuk maleo, 2 jenis enggang Sulawesi yaitu julang Sulawesi dan kengkareng Sulawesi. Burung enggang benbuncak juga disebut rangkong atau burung allo menjadi penghuni Taman Nasional Lore Lindu termasuk ada ribuan serangga aneh dan cantik dapat dilihat di sekitar taman ini. 

Walau demikian di kawasan hutan TNLL ini tidak dibolehkan untuk melakukan perburuan apalagi didaerah kulawi  ini sangat diperketat dengan pemberlakuan adat. Seperti yang diungkap oleh Ibu Yeni, salah seorang tokoh masyarakat,  tokoh perempuan dan tetua adat sehingga beliau mendapat gelar adat menjadi “Tinangata” di desa Morena Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. 

Tinangata,  gelar kehormatan  adat untuk Ibu Yeni selaku salah satu tokoh perempuan didesa Morena,  Kecamatan  Kulawi.(fhoto:nila)

Gelar adat menjadi Tinangata merupakan suatu kehormatan yang amat dihargai dan dihormati oleh masyarakat desa adat yakni desa Morena di Kecamatan Kulawi. Dan untuk menjadi tinangata bukan hal yang mudah dan diperoleh begitu saja, pastinya ada kriteria penilaian atau persyaratannya terutama seseorang menjadi tinangata harus memiliki jiwa kepemimpinan, keberanian dalam memperjuangkan hak masyarakat desa serta bisa mengayomi dan kreativit dalam hidup bermasyarakat. “saya mendapat julukan menjadi tinangata itu ditetapkan oleh dewan adat Kulawi dan tentunya didasari oleh kesepakatan serta dukungan dari masyarakat” kata Ibu Yeni selaku tinangata adat Kulawi sekaligus merangkap sebagai Kepala urusan kemasyarakatan di desa Morena. 

Masih terkait pemberlakuan adat di desa Morena, dalam hal pengelolaan kawasan hutan di TNLL ini juga diperketat dengan adat dan itu sangat dipatuhi oleh masyarakat desa Morena. 

Kata Tinangata,  di desa Morena ini,  mereka sangat menjaga bagaimana hubungan dengan alam dan bagaimana membina hubungan dengan manusia.  Sehingga adat diberlakukan dalam menjaga keberadaan hutan didesa Morena. “hutan itu ibarat rumah kami, Batunya adalah daging kami,  kayunya adalah tulang kami, airnya adalah darah kami dan semua yang ada disalam hutan itu adalah anggota tubuh kami,” kata Tinangata yang mengakui bahwa masyarakat desa Morena sangat menjaga kearifan lokal. Keberadaan Adat, Agama dan Pemerintah  saling berinteraksi dan bersinergi dalam menjaga kelestarian alam hutan TNLL. Sehingga sangat pantas kalau Desa Morena disebut sebagai desa Adat. 

Sebenarnya masih banyak hal yang harus digali dari desa adat,  desa Morena tetapi karena waktu sudah hampir malam, maka Tim II melanjutkan perjalanan menuju ke pesanggrahan yang ada didesa Bolapapu,  Kecamatan Kulawi. 

Karena keesokan harinya,  tim II melanjutkan kunjungan menuju ke situs cagar budaya daerah Kulawi yang letaknya tidak jauh dari pesanggrahan, Disitu terdapat situs lem berupa rumah peninggalan raja terakhir Kulawi yaitu raja  Maurits Djiloy yang meninggal pada 19 Desember 1962.

Di Situs Lemo,  terdapat rumah raja Maurits Djiloy,  raja terakhir kulawi. (fhoto:nila)

Saat berkunjung ke situs cagar budaya Kulawi,  setiap tamu yang datang harus didampingi oleh minimal seorang jupel (juru pelihara). Kebetulan saat kunjungan tim II ke situs cagar budaya kulawi,  didampingi seorang jupel situs bersejarah dan cagar budaya dari kulawi bernama Yunus Tomeke.  

Makam raja I Kulawi Hangkalea,  yang saat ini sudah ditindis dengan bangunan rumah yang masih ada hubungan dengan keluarga raja.  (fhoto:nila)

Selaku jupel, Yunus  banyak berkisah terkait keberadaan situs cagar budaya kulawi. 

Keunikan Batu Dakon yang memiliki banyak lubang dan ada bekas telapak kaki manusia zaman batu. Dimana lubang-lubang itu merupakan peta wilayah kerajaan kulawi kuno. (fhoto:nila)

Diseputaran pesanggarahan itu,  banyak ditemui situs bersejarah yang bahkan merupakan situs dari zaman batu yang banyak didapati diantara kebun coklat milik warga. Diantaranya ada situs batu dakon, Situs yang paling unik, yang di atasnya nampak terpahat bekas telapak kaki berikut lubang-lubang bulat dan lubang melonjong yang menggambarkan sketsa atau peta wilayah kerajaan Kulawi kuno.  

Inilah makam raja terakhir kulawi,  raja Maurits Djiloy yang dimakamkan tidak jauh dari lokasi rumah raja. (fhoto:nila)

Yunus menerangkan  bahwa masa pemerintahan kerajaan Kulawi yang pertama berakhir sekitar 1910, yang dipimpin oleh raja perempuan bernama Hangkalea. Raja kedua bernama Towua Langi, yang berkuasa sampai tahun 1952. Sedangkan raja ketiga bernama Tomampe yang kekuasaannya berakhir pada tahun 1958. Raja terakhir yang berkuasa, yaitu sekitar tahun 1962 adalah Maurits Djiloy.

Meja kursi peninggalan raja terakhir kulawi,  raja Maurits Djiloy.  (fhoto:nila)

“sepeninggalan di zaman raja Maurits Djiloy inilah masih bisa ditemukan beberapa aset peninggalan kerajaan kulawi terakhir  yang masih tersimpan di rumah raja di situs lemo. Diantaranya ada tempayan, meja kursi yang terbuat dari kayu ulin dan masih ada lagi ratakan piring yang terbuat dari rotan dan masih tersimpan rapi di rumah raja Djiloy. 

Salah satu dari ratusan lumpang batu yang ditemui di lokasi perkebunan coklat milik warga,  namun masih tetap terpelihara. (fhoto:nila)

Di situs lemo ditemukan ada rumah raja, makam raja tadulako,  ada makam maradindo dan ada lobi.  Sementara disitus panama ada batu dakon,   ada lumpang batu,  kalamba dan bekas telapak kaki orang zaman batu.  Sementara dua situs lainnya yaitu situs panua ditemukan ada batu tambaga,  altar dan megalitik. Sedang disitus bola ada altar,  megalitik, umpak dan menhir. 

Salah satu lumpang batu yang nampak unik. (fhoto:nila)

“semua benda purbakala yang dari zaman batu ini keberadaannya masih terpelihara dengan baik karena ini peninggalan situs bersejarah yang harus kita jaga kelestariannya, “ kata Yunus berharap agar ada kepedulian dari pemerintah terhadap pelestarian situs bersejarah yang ada di kecamatan Kulawi. Dari kecamatan Kulawi,  tim II bergeser menuju ke Desa Tuva di Kecamatan Gumbasa.  Diketahui bahwa di desa Tovu ini ada peningkatan burung Makro,  salah satu jenis satwa langka khas Sulawesi Tengah. 

Namun untuk menuju ke tempat penangkaran burung Maleo,  hanya bisa ditempuh dengan kendaraan ojek motor. Mengingat medannya tidak baik karena belum tersedianya jalan untuk menuju ke tempat penangkapan maleo. “jalan yang ada ini hanya melalui diantara pepohonan coklat yang ad di kebun warga. Itupun akses jalannya tidak menjamin untuk bisa dilalui dan hanya orang tertentu saja yang mampu melintasi jalan seperti itu apalagi terkadang harus melalui tepian sungai yang tanahnya rawan runtuh,” kata Suud  pengelola tempat penangkapan burung maleo. 

Sebelum menuju ke penangkaran Maleo,  kami menghampiri dan melihat langsung proses pembuatan gula aren yang dibuat dari air nira. Dan pohon nira atau pohon enau ini banyak tumbuh liar di perkebunan warga yang ada di sekitar kawasan hutan TNLL. 

Proses pembuatan gula aren di desa Tovu.(fhoto:nila)

“Dari pohon enau ini, pendapatan saya sehari bisa sampai Rp350 ribu dari hasil penjualan gula aren yang per harinya bisa di produksi antara 20-25 kg dengan pasaran harga Rp15.000 per kg. Dan hasilnya sangat menjanjikan, “ kata Arifin petani gula aren dari desa Tovu. 

Satwa Langka,  Burung Maleo yang ada di Sulawesi Tengah. (fhoto:nila)

Usai mencicipi manis alaminya gula aren,  kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke penangkaran Maleo. Disinilah kami banyak mengetahui tentang proses penyelamatan burung  maleo  dari  kepunahan sekaligus menyelamatkan dari predator utama (manusia) .  “Setiap  hari  kami harus menyusuri  hutan yang letaknya tidak jauh  dari penangkaran. Kami  harus memeriksa setiap  lubang baru tempat bertelur maleo. Karena telurnya  itu  akan  dibawa  ke penangkaran untuk dieramkan  disana agar bisa  menjadi anakan  burung  maleo . Dan setelah anakannya dianggap dewasa barulah dilepas kealam bebas, “ kata Suud  yang sangat  peduli  dalam penyelamatan satwa langka yang satu ini,  yang harus terus dijaga dan diselamatkan dari oknum-oknum yang tidak pernah berpikir untuk keberlangsungan satwa langka ini dan menghindarkannya dari kepunahan. 

REDAKTUR :NILAWATI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.